CERPEN | Menanti Pahlawan Kembali – Detak Berita

Sumber : https://unsplash.com/@dearseymour

DETAK CERPEN – Lingkungan sekitar rumahnya dipenuhi umbul-umbul. Jalan-jalan disapu bersih, tidak ada sampah sedikitpun yang terlihat. Matahari bersinar cerah, awan putih seolah ditempatkan dengan sempurna di langit biru dan rumputpun terlihat tampak lebih hijau dari biasanya.

Jendela depan toko terpasang tanda bertuliskan “JALAN DITUTUP UNTUK UMUM”. Sementara orang-orang mulai berbaris di tepi jalan. Anak-anak kecil mengambil posisi di sebelah orang tua mereka..

Tampaknya warga di situ sedang mengadakan sebuah parade kecil untuk menyambut hari Pahlawan. Terlihat petugas keamanan berusaha mendisiplinkan masyarakat tetap pada jalurnya yaitu di sisi jalan, agar iring-iringan yang akan lewat tak mendapat hambatan.

Tidak cuma itu, mereka juga memastikan warga yang hadir untuk berjaga jarak dan memakai masker, bahkan mereka membagi-bagikan masker untuk beberapa warga yang terlihat tidak memakainya,

Selang beberapa lama kemudian tiga orang berpakaian seperti badut datang membagi-bagikan sebuah kantong plastik kepada setiap warga yang hadir. Di dalamnya terdapat hand sanitizer, minuman segar dan permen. Badut-badut itu terlihat bertambah lucu dengan masker menutupi mulut dan hidungnya.

Tepat di belakang para badut, beberapa wanita memakai kostum dari berbagai daerah membagikan bendera merah putih kecil.

Serempak kerumunan bersorak dan melambai-lambaikan bendera kecil di tangan mereka, menyaksikan para tentara yang lewat, petugas Polisi bahkan pemadam kebakaran.

Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun duduk dengan tenang sendirian di tepi jalan sambil memandangi bendera kecil yang dulu pernah diberikan kakak laki-lakinya sebelum dia pergi.

Cuma satu orang yang ingin dia lihat dalam barisan parade itu. Tetapi orang yang dia harapkan tidak ada di sana. Anak laki-laki itu menatap ke warna merah putih kain di tangannya, ia bingung apakah dia harus merasa bangga atau marah.

Ia tidak mengerti mengapa mereka menyebut kakaknya sebagai seorang Pahlawan. Ketika dia mendengar kata Pahlawan, yang ada dibenaknya adalah orang super kuat yang melawan kejahatan.

Pahlawan menyelamatkan jiwa manusia. Pahlawan begitu kuat sehingga tidak ada yang bisa melukai mereka. Pahlawan selalu mengalahkan orang jahat dan menang.

Pahlawan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Tapi, pahlawan tidak seharusnya meninggalkan adiknya.

Kakak laki-lakinya itu sudah terlebih dahulu menjadi pahlawannya, jauh sebelum orang lain mulai memanggilnya dengan sebutan Pahlawan.

Pahlawan yang telah mengajarinya cara menangkap bola, cara membuat kapal-kapalan, cara membangun benteng dari pasir dan cara memenangkan hati ibunya dengan setangkai bunga.

Pahlawan yang telah menunjukkan kepadanya bahwa penting untuk menyeimbangkan antara bersenang-senang dengan disiplin. Bagaimana cara belajar yang baik untuk dapat menyelesaikan semua PR dari sekolah, dan cara memperbaiki rantai sepedanya.

Pahlawannya bahkan selalu memberi kue ekstra kepadanya setiap saat ia diam-diam mencoba mengambil kue yang disimpan ibunya setelah makan malam.

“Nanti ya.. kalau kakak pulang”, kakaknya berjanji padanya, “Kakak akan mengajari kamu bagaimana cara mengobrol dengan anak perempuan tanpa harus malu-malu”.

Bocah itu berpikir dia tidak peduli tentang anak perempuan, meski penasaran mengapa dia harus belajar tentang mereka. Tapi apapun itu, dia selalu menantikan kakaknya untuk mengajarinya hal-hal baru.

Sementara orang-orang bersorak menyambut kedatangan arak-arakan dengan bendera mereka, anak laki-laki ini memandang dengan sungguh-sungguh pada warna merah putih yang berputar-putar di tangannya.

Dia mencoba mencari-cari wajah kakaknya, membayangkan kakaknya berjalan dengan tegak, kuat dan tampan dengan seragamnya. Kakak laki-lakinya selalu tersenyum padanya saat dia meletakkan tangan kanannya lurus dan tegas di dahinya.

Memberi hormat memang selalu dilakukan bocah kecil itu, setiap kakaknya akan pergi jauh. Mengingat semua ini, membuatnya bangga sekaligus sedih. Ada rasa sakit mendalam di hatinya karena dia sangat merindukan kakaknya, pahlawannya.

Memang butuh beberapa tahun sebelum dia menyadari apa arti pengorbanan itu dan akan membutuhkan waktu sedikit lama untuk menyadari bahwa parade yang dilaksanakan tidak cuma untuk kakaknya tapi juga untuk memperingati Hari Pahlawan diseluruh negeri.

Belakangan, disetiap perayaan seperti Hari Kemerdekaan, Hari Pancasila, Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan dan hari perayaan patriotik lainnya, ia selalu merindukan kedatangan kakaknya. Bocah itu selalu memikirkan tentang banyak hal yang akan dia lakukan jika kakaknya ada bersamanya.

Malam harinya, anak laki-laki itu duduk memandangi kembang api warna-warni yang meledak di udara dan dalam sekejap ia merasa kakak laki-lakinya berdiri di belakangnya.

Tapi, saat berbalik, ia hanya melihat seorang gadis sebayanya berambut keriting panjang. Sebelumnya, dia tidak pernah mengira rambut seorang gadis bisa terlihat begitu indah.

Tetiba seperti ada sesuatu yang menyenggol perutnya, seolah memberi isyarat bahwa gadis itu cantik, meski sebagaian wajahnya tertutup oleh masker. Perasaan canggung yang belum pernah ia rasakan melanda dirinya dan dia tidak tahu harus berbuat apa.

“Hai”. Kata si gadis kecil itu.

Bocah laki-laki itu tetap membeku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Aku boleh duduk di sebelahmu gak?” tanya si gadis. Lagi-lagi anak laki-laki itu masih terdiam.

Kemudian, gadis itu tertawa kecil dan berkata, “Aku janji deh akan jaga jarak, tidak terlalu dekat-dekat, dan kamu kayaknya harus banyak belajar ngomong deh, apalagi sama anak perempuan!” katanya nyerocos. Tanpa sungkan ia langsung mengambil tempat duduk di sebelahnya.

Anak laki-laki itu sekejap memandang mata sang gadis dan tiba-tiba saja ia melihat sosok kakaknya lengkap dengan pakaian seragamnya berdiri di sana. Kakaknya tersenyum sambil mengedipkan mata padanya, lalu pergi.

“Kamu mau benderaku?” Entah setan apa yang merasuk, anak laki-laki itu akhirnya menemukan keberanian untuk berbicara dengan si gadis.

Gadis kecil itu tersenyum dan mengambil bendera yang disodorkan kepadanya. Dari dalam tas kecilnya ia mengeluarkan botol hand sanitizer dan melumurkannya pada tongkat bendera yang terbuat dari kayu.

Ia kemudian menyodorkan botol hand sanitizer tersebut kepada anak laki-laki itu. Tanpa ba-bi-bu, sang bocah meraihnya dan langsung mengucurkan ke telapak tangan kirinya, kemudian mengenbalikan botol hand sanitizer kembali kepada si gadis.

“Bendera itu adalah pemberian kakakku. Dia seorang Pahlawan”, katanya sambil menunduk, mengusap kedua tangannya yang masih basah karena hand sanitizer.

Ketika anak laki-laki itu hendak bercerita tentang kakaknya, tiba-tiba pikirannya terganggu oleh pandangan mata bulat sang gadis di depannya dan pada saat yang bersamaan ia seolah mendengar kakaknya berbisik, “Nah, kubilang juga apa, kamu masih harus banyak belajar!”

Widz Stoops, PC-USA 11.11.2020

Cerpen ini adalah persembahan untuk almarhum kakak saya, Pahlawan saya di masa kecil dulu. Cerpen terinspirasi oleh Hari Pahlawan di Indonesia tanggal 10 November, Veterans Day di Amerika tanggal 11 November dan lagu Daniel ciptaan Elton John, yang juga merupakan salah satu lagu favorit almarhum.
(Sumber: Kompasiana)

DB

Related posts

Leave a Comment