Minta Uang Terdakwa, Jaksa Kejati Manado Dilaporkan Kejagung

istimewa_20171214_120030

istimewa_20171214_120030MANADO, Detakberita – Oknum jaksa Kejaksaan Tinggi (Kejati) Manado harus berurusan dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI. Mereka dilaporkan ke Kejagung lantaran diduga meminta uang untuk keringanan hukuman terdakwa atas nama Muhammad Alhasni alias Memet.

 Laporan dilayangkan karena terdakwa merasa dipermainkan. Saat itu terdakwa mendapatkan ‘iming-iming’ keringanan hukuman, dengan syarat harus mengeluarkan sejumlah uang sebagai pelicin. Atas iming-iming itu, terdakwa tergoda untuk memberikan sejumlah uang selama proses hukum. “Iya kita ditawari untuk membayar supaya hukuman tidak berat,” kata Muhammad Alhasni alias Memed, terdakwa kasus narkoba dalam surat ke Kejaksaan Agung, yang diluncurkan Senin, 23 Juli 2018.

 Memed panggilan Muhammad Alhasni menceritakan, saat itu setelah kasusnya P21 masuk ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado, dirinya langsung mendapatkan tawaran menggiurkan dari Kasi Pidum saat itu, Sterry Fendhy Andhi, SH. Dia tidak akan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) negara, tetapi dititipkan di tahanan Pol Airut sembari menunggu proses penanganan perkara di wilayah Pengadilan Negeri (PN) Manado.

Untuk bisa menempati tahanan Pol Airut, Memed mengaku mengeluarkan uang sebesar Rp100 juta. Uang tersebut diminta secara langsung oleh Kasi Pidum, sebagai bentuk penempatan tahanan. “Jadi saya harus mengeluarkan Rp100 jutaan untuk bisa di tahanan Pol Airut,” ujarnya, Jumat (24/8).

 Tidak hanya itu, Memed menuturkan setelah mengeluarkan uang sejumlah Rp100 juta, dia juga dimintai sejumlah uang oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), K.Ihcent. Pelealu, SH, MH. Jaksa Kejaksaan Tinggi (Kajati) Manado yang dibertugas khusus menangani kasus narkoba dengan terdakwa Memed ini meminta sejumlah uang. “Saya juga dimintai uang oleh Bu Jaksa (K.Ihcent. Pelealu, SH, MH) sebesar Rp250 juta,” ucapnya.

 Uang tersebut, lanjut dia bertujuan untuk meringankan tuntutan. Saat itu, ungkap dia, tanggal 6 Juni 2018 keluarganya diajak bertemu dengan JPU K.Ihcent. Pelealu, SH, MH di kantor Kejati Manado. Dalam pertemuan itu, JPU meminta uang sebesar Rp250 juta dengan tuntutan selama 7 tahun. Hasil pertemuan dengan JPU dilaporkan kepadanya. “Betapa kagetnya saya. Saya harus mengeluarkan uang sebesar Rp250 juta tetapi dituntut 7 tahun. Padahal saya ini dianggap menyalahgunaan narkoba, buktipun tidak kuat hanya dianggap meresahkan masyarakat. Kok dituntut tinggi,” jelas dia.

Tawaran JPU langsung ditolak, JPU langsung marah dan mengancam akan menuntut tinggi. Ancaman JPU terbukti, JPU menuntut selama 9 tahun penjara dengan bukti hanya meresahkan warga. Selain itu, dirinya juga didenda sebesar Rp800 juta. “Inikan tidak manusiawi. Masak hukum dibuat permainan, saya ingin Kejaksaan Agung melakukan pemeriksaan kepada Jaksa da Kasi Pidum. Mereka telah menjadikan hukum sebagai alat mencari kekayaan. Padahal saya ini juga korban atas penyalahgunaan narkotika untuk diri sendiri,” tegas Memed.   Untung saja proses hukum di tingkat Pengadilan Negeri masih melihat fakta persidangan. Meski dituntut jaksa selama 9 tahun penjaran, hakim PN Manado memberikan vonis selama 1 tahun penjara.(arf)

 

Related posts

Leave a Comment