Industri Makanan Minuman Tergerus Akibat Rupiah Melemah

Kitchen Mamin detak berita

Kitchen Mamin detak berita

Rupiah Melemah, Industri Makanan dan Minuman Mulai Waspada

JAKARTA, Detak Berita — Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Siswaja Lukman, mengaku khawatir dengan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sebab industri makanan dan minuman Indonesia masih bergantung pada bahan baku import.

“Eksport kita untuk bahan olahan tidak sebesar import bahan bakunya. Tapi kalau kita bicara total produk pertanian dan pangan, memang kita surplus, karena sawit masih menjadi andalan kita”, jelasnya kepada media, Selasa (14/8/2018).

GoTravelKita.com

Adhi mengakui adanya penurunan margin profit setiap industri makanan dan minuman akibat biaya bahan baku impor yang semakin tinggi. Namun ia mengatakan saat ini industri tetap mempertahankan harga jual produknya.

“Kami memilih tidak menaikkan harga, suapaya tidak mengganggu daya beli masyarakat. Korbananya memang profit margin tergerus, tapi kami melihat tidak memungkinkan menaikkan harga di kondisi seperti ini”, jelas dia.

Industri makanan dan minuman lebih memilih meraih sedikit untung agar dapat terus tumbuh daripada menaikkan harga yang berakibat turunnya pertumbuhan perusahaan.

Adhi tidak dapat memastikan ketahanan industri berada dalam pilihan berat tersebut.

“Masing-masing perusahaan punya daya tahan sendiri. Tapi yang kasihan UKM, karena mereka daya tahannya rendah, sehingga dengan kenaikan bahan baku, mereka rentan terpaaksa menaikkan harga”, kata dia.

Meskipun dalam kondisi sulit, Adhi mengatakan hingga kini belum menerima adanya gangguan produksi maupun pengurangan karyawan di industri makanan dan minuman untuk efisiensi biaya produksi.

“Semoga tidak terjadi, memang makanan dan minuman selalu dibutuhkan, hanya saja daya beli berkurang, makanya harus kita jaga. Pemerintah perlu mulai fokus mengantisipasi ini memperbaiki regulasi yang menghambat”, harap dia.

DB

Related posts

Leave a Comment