Korban Selamat Kekejaman Tentara Myanmar Tuturkan Cerita

Rohingya Korban Tembak Myanmar detak berita

Rohingya Korban Tembak Myanmar detak berita

KUTUPALONG, Detak Berita – Hamid Husein (25 tahun), korban tembak tentara Myanmar meceritakan kisahnya saat ditemui oleh sejumlah wartawan asal Indonesia dan perwakilan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Dengan suara yang penuh emosi, Hamid mengaku terkena tembakan di bagian dada kanan hingga merobek tulang bagian belakangnya.

Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana Hamid bersama keluarganya sedang berada di dalam rumah di Mundu Myanmar.

Tentara Myanmar dan masyarakat lokal ikut bergabung menyerang mereka. Rumah-rumah orang Rohingya disekitarnya saat itu sudah terkepung.

“Saat itu kami tidak bisa berbuat apa-apa selian hanya berupaya untuk menyelamatkan diri”, ungkap Hamid saat ditemui di posko pengungsian, Kutupalong, Cox’s Bazar, Bangladesh, Sabtu (23/12/2017).

Saat terkepung, Hamid bersama kedua orang tua dan ketiga saudaranya panik dan ingin menyelamatkan diri.

Namun, naas baginya, begitu hendak keluar melewati pintu depan, Ia langsung ditembak oleh tentara Myanmar. Darah kental pun mengucur disekujur tubuhnya.

Hamid beruntung bisa menyelamatkan diri melalui hutan dan melintasi perbukitan selama lima hari hingga sampai di tempat pengungsian Kutupalong, Bangladesh.

Begitu juga ayah-ibunya serta dua saudaranya bisa selamat dari peristiwa tersebut. Sementara kakak pertamanya tewas tertembak.

“Yang ditembak mati adalah kakak yang besar. Terus saya dibawa ke Bangladesh dengan luka tertembak”, ujar Hamid.

Hamid dipapah oleh orang tuanya. Selama dalam perjalanan menuju Bangladesh, pria yang masih polos ini tak sadarkan diri.

Akhirnya begitu tiba di Bangladesh, Hamid langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani operasi. Nyawa Hamid memang terselamatkan, tetapi rasa trauma itu masih terus menyelemutinya.

“Alhamdulillah saya masih hidup, tapi saya kasihan sama kakak, saya selalu ingat kakak”, kata Hamid dengan nada sedih.

Tinggal di Kutupalong, Bangladesh, Hamid belum berniat mencari pekerjaan mengingat luka tembak yang dialami masih dirasakan sakit. Dia juga terpaksa putus sekolah.

Kedua orang tuanya pun tak bisa berbuat banyak, karena tinggal di tempat pengungsian tidak ada yang bisa diharapkan sebagai sumber pendapatan.

“Tapi saya tidak mau balik lagi ke Myanmar, mereka kejam, mereka membunuh kakak saya, mereka juga perkosa dan bakar rumah kami”, tuturnya.

DB

Related posts

Leave a Comment