Jamaah Beri Kritik Sangat Banyak Bagi Penyelenggaraan Haji Tahun Depan

Jemaah Haji memadati areal Thawaf di Masjidil Haram. (foto: istimewa)
Jemaah Haji memadati areal Thawaf di Masjidil Haram. (foto: istimewa)
Jamaah Haji memadati areal Thawaf di Masjidil Haram. (foto: istimewa)

JAKARTA, Detak Berita — Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) tahun 2017. Selain IKJHI, BPS dalam surveinya juga merangkum berbagai saran dan masukan jamaah bagi penyempurnaan penyelenggaraan ibadah haji tahun mendatang.

“Kementerian Agama selalu melakukan perbaikan-perbaikan. Kita tangkap dari persepsi konsumen nanti apakah pelayanan mengalami perbaikan”, ujar Kepala BPS Suharyanto kepada media, Kamis (2/11/2017).

Masukan terkait pelayanan petugas haji misalnya, kata Suharyanto, jamaah menilai ke depan diperlukan petugas yang memiliki kemampuan berbahasa Arab atau Inggris. Selain itu, alokasi petugas yang siaga di setiap hotel, khususnya di Madinah, juga perlu ditambah.

“Juga peran aplikasi Haji Pintar, agar dapat dimaksimalkan dengan menambahkan peta hotel dan juga keberadaan petugas secara real-time”, tuturnya.

Untuk pelayanan ibadah, jamaah memberikan masukan agar petugas pembimbing ibadah adalah orang yang sudah pernah berhaji agar dapat lebih melayani. Pemilihan petugas pembimbing ibadah juga harus lebih selektif, terutama pada kemampuan memahami manasik haji.

Jamaah juga memandang perlu adanya komitmen bagi pembimbing ibadah secara tertulis untuk senantiasa melayani jamaah. Selain itu, jamaah juga berharap agar agenda kegiatan selama di Arab Saudi harus diketahui oleh seluruh jamaah.

Suharyanto menambahkan bahwa hasil survei untuk pelayanan akomodasi, secara umum sudah memuaskan, hanya perlu tambahan fasilitas: Wi Fi di setiap hotel, tempat dan mesin cuci, serta area jemur pakaian.

Ketersediaan alat kebersihan, media informasi tentang peta lokasi hotel, rute ke tempat-tempat ibadah, dan informasi penting lainnya, juga bagian yang perlu disediakan di setiap lobi hotel.

BACA JUGA Hindari Ojek Online Yang Jatuh, Mobil Box Terjun dari Fly Over BORR

Terkait peningkatan pelayanan akomodasi di Arafah dan Mina, jamaah berharap tenda di Mina diperluas sehingga sesuai jumlah jamaah yang semakin meningkat.

Juga perlu ditambah jumlah MCK dan tempat wudhu serta dibedakan arealnya pria dan wanita.

Ketersediaan/keberfungsian AC dan kipas angin perlu ditambah serta perlunya peningkatan kebersihan di area sekitar tenda.

Sedangkan untuk aspek pelayanan katering/makanan, jamaah merasakan bahwa makanan yang disajikan belum memenuhi kriteria cita rasa Indonesia dan variasi menu makanan perlu diperbanyak.

“Jamaah juga meminta diberikan makan full selama di Tanah Suci, perbanyak menu berupa sayuran, khususnya untuk jamaah lansia”, ujar Suharyanto.

Pelayanan bus antar kota dinilai sangat memuaskan. Namun, jamaah menyarankan agar koordinasi antar semua petugas yang menangani transportasi bus antar kota, termasuk juga dengan para sopir ditingkatkan.

Untuk pelayanan transportasi bus shalawat, jamaah merasa kurangnya armada bus khususnya pada saat setelah shalat Jumat dan Isya. Jamaah merasa waktu tunggu di terminal menjadi cukup lama.

Perlu pengaturan yang lebih baik di setiap shelter supaya jamaah lebih tertib misalnya dengan membuat jalur antrean dengan pembatas tali sehingga tidak berebut.

BACA JUGA Menkominfo Miliki Wewenang Tindak Perusahaan Aplikasi Transportasi Online Nakal

“Selain itu, sopir sebaiknya yang dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris”, tegasnya.

Jamaah juga memberikan masukan untuk Pelayanan Transportasi Bus Armina. Mereka merasa waktu tunggu datangnya bus terlalu lama, khususnya perjalanan dari Hotel ke Arafah dan Arafah ke Muzdalifah/Mina.

Jemaah juga merasakan kurangnya armada bus sehingga banyak yang tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa berdiri di dalam bus. Lalu, fasilitas yang ada di dalam bus banyak yang tidak berfungsi seperti AC tidak dingin dan kursi rusak.

“Perlu sosialisasi keberadaan pos-pos pelayanan di sekitar Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Jamarat di Mina, dan lainnya. Sehingga jamaah dapat dengan mudah mendapat pertolongan jika ada yang sakit atau tersesat jalan”, ujar Suharyanto.

Masukan lain dari jamaah haji Indonesia menyangkut penanganan yang perlu lebih cepat terutama berkaitan dengan koper atau tas yang terpisah/tertinggal/hilang dari tangan jamaah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan masukan yang telah disampaikan oleh BPS akan menjadi pegangan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan ibadah haji di tahun depan.

“Tentu apa yang tadi telah disampaikan banyak memberikan masukan bagi kami dalam upaya meningkatkan penyelenggaraan haji di tahun mendatang”, ujar Menag Lukman yang hadir di BPS didampingi oleh Dirjen PHU Nizar Ali beserta jajarannya, Karo Humas, Datam dan Informasi Mastuki, serta Kepala Biro Perencanaan Ali Rokhmad.

DB

Related posts

Leave a Comment