Bemo Akan Kembali Digusur, Sopir Berharap Jadi PHL Pemprov DKI Jakarta

Angkutan Bemo yang masih bertahan di Grogol Pertamburan, Jakarta Barat.
Angkutan Bemo yang masih bertahan di Grogol Pertamburan, Jakarta Barat.
Angkutan Bemo yang masih bertahan di Grogol Pertamburan, Jakarta Barat.

JAKARTA, Detak Berita – Pemprov DKI kembali melarang bemo beroperasi di Jakarta. Setelah digusur, sopir angkutan jadul tersebut bakal direkrut sebagai pegawai harian lepas (PHL).

Syaefudin, sopir bemo di kawasan Olimo, Tamansari, Jakarta Barat, menyambut baik rencana Pemprov DKI untuk merekrutnya menjadi PHL.

“Alhamdulillah, mau dijadikan PPSU maupun PHL Badan Air, saya mau banget,” ucapnya, Kamis (8/6/2017) malam.

Lelaki yang biasa disapa Fudin ini mengaku narik bemo melelahkan.

“Berangkat pagi, pulang malam, paling cuma bawa pulang uang Rp 70 ribu,” tuturnya. “Kami mau jadi PHL, asal Pemprov DKI jangan omong doang (omdo).”

Pendapatannya sedikit, karena selain harus membayar setoran Rp 40 ribu/hari, sambung Fudin, ia juga harus membeli bensin minimal Rp 50 ribu. Sedangkan tarif penumpang sekitar Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu/orang.

Namun untuk program perekrutan PHL, tampaknya ia terkendala pada masalah KTP.

“Saya belum punya KTP DKI, KTP saya masih Pandeglang, Jawa Barat. Banyak teman-teman yang ber-KTP daerah, mudah-mudahan bisa dibantu pemerintah berpindah KTP DKI. Enakan jadi PHL, dapat gaji UMP ditambah berbagai program jaminan sosial dan kesehatan,” ujar Fudin yang merupakan lulusan D-3 perguruan tinggi swasta.

Pemerintah Kewalahan

Pada 6 Juni 2017, Pemprov DKI kembali mengeluarkan larangan terhadap bemo beroperasi di Ibukota.

Padahal larangan itu sudah diberlakukan sejak 1996, namun selama ini pemerintah kewalahan untuk menegakkan larangan tersebut sehingga sampai kini masih ada ratusan angkutan lingkungan beroperasi.

Ratusan bemo tiap hari masih terlihat mengangkut penumpang seperti di kawasan Olimo, Mangga Besar, Makaliwe, Grogol, Bendungan Hilir, Cempaka Putih, dan lainnya.

Kepala Dinas Perhubungan DKI, Andry Yansyah, telah mengeluarkan surat edaran kepada para sopir bemo yang berjumlah sekitar 200 orang.

Kepala Seksi Angkutan Orang Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, Regitta, mengatakan mereka diberi empat pilihan.

Pilihan pertama adalah mengikuti program bantuan kredit Bajaj baru dengan uang muka hanya Rp 5 juta.

Pilihan kedua, khusus bemo yang masih bagus bisa dimasukkan program angkutan wisata.

Ketiga, difasilitasi untuk berpindah menjadi sopir mikrolet dan sejenisnya.

Pilihan keempat, diberi kesempatan menjadi PHL Pemprov DKI.

“Kami sudah bertemu dengan kordinator sopir bemo kemarin untuk memberikan sosialisasi yang kedua kalinya,” ujar Regitta.

Sopir diimbau untuk mengindahkan pilihan tersebut, karena setelah program berjalan, maka Dishub akan lebih tegas menertibkan angkutan jadul yang sudah tidak layak mengangkut penumpang.

DB

Related posts

Leave a Comment